Welcome to my Blog !!

Say what you want to say when you have time

KISAH SUKSES PENGUSAHA BURGER

Lulusan STM bangunan ini mengawali bisnisnya hanya dengan dua gerobak. Kini, ia memiliki 10 pabrik dan 2.000 outlet Edam Burger yang tersebar di seluruh Indonesia. Segalanya tentu tak mudah diraih. Bahkan, ia pernah menjalani hidup yang keras di Jakarta.

KLIK - Detail

(Di rumah mungil di kawasan Perumnas Klender, Jakarta Timur, belasan pegawai berkaus merah kuning terlihat sibuk. Roti, daging, sosis, hingga botol-botol saus kemasan bertuliskan Edam Burger disusun rapi dalam wadah-wadah plastik siap edar. Seorang lelaki bercelana pendek berhenti bekerja, lalu keluar menyambut NOVA.Pembawaannya sederhana, tak ubahnya seperti pegawai lain. Sambil tersenyum hangat, ia pun memperkenalkan diri. “Aduh maaf, ya, saya tidak terbiasa rapi, hanya pakai oblong dan celana pendek,” tutur Made Ngurah Bagiana, sang pemilik Edam Burger. Beberapa saat kemudian, Made bercerita.)

Terus terang, saya suka malu dibilang pengusaha sukses yang punya banyak pabrik dan outlet. Bukan tidak mensyukuri, tapi saya hanya tak mau dicap sombong. Saya mengawali semua usaha ini dengan niat sederhana: bertahan hidup. Makanya, sampai sekarang saya ingin tetap menjadi orang yang sederhana. Sesederhana masa kecil saya di Singaraja, Bali.

Orang tua memberi saya nama Made Ngurah Bagiana. Saya lahir pada 12 April 1956 sebagai anak keenam dari 12 bersaudara. Sejak kecil, saya terbiasa ditempa bekerja keras. Malah kalau dipikir-pikir, sejak kecil pula saya sudah jadi pengusaha. Bayangkan, tiap pergi ke sekolah, tak pernah saya diberi uang jajan. Kalau mau punya uang, ya saya harus ke kebun dulu mencari daun pisang, saya potong-potong, lalu dijual ke pasar.

Menjelang hari raya, saya pun tak pernah mendapat jatah baju baru. Biasanya, beberapa bulan sebelumnya saya memelihara anak ayam. Kalau sudah cukup besar, saya jual. Uangnya untuk beli baju baru. Lalu, sekitar usia 10 tahun, saya harus bisa memasak sendiri. Jadi, kalau mau makan, Ibu cukup memberi segenggam beras dan lauk mentah untuk saya olah sendiri.

PENSIUN JADI PREMAN

KLIK - Detail

Begitulah, hidup saya bergulir hingga menamatkan STM bangunan tahun 1975. Bosan di Bali, saya pun merantau ke Jakarta tanpa tujuan. Saya menumpang di kontrakan kakak sayadi Utan Kayu. Untuk mengisi perut, saya sempat menjadi tukang cuci pakaian, kuli bangunan, dan kondektur bis PPD.

 

 

Kerasnya kehidupan Jakarta, tak urung menjebloskan saya pada kehidupan preman. Bermodal rambut gondrong dan tampang sangar, ada-ada saja ulah yang saya perbuat. Paling sering kalau naik bis kota tidak bayar, tapi minta uang kembalian.

(Sambil berkisah, Made terbahak tiap mengingat pengalaman masa lalunya. Berulang kali ia menggeleng, lalu membenarkan letak kacamatanya).

Toh, akhirnya saya pensiun jadi preman. Gantinya, saya berjualan telur. Saya beli satu peti telur di pasar, lalu diecer ke pedagang-pedagang bubur. Ternyata, usaha saya mandeg. Saya pun beralih menjadi sopir omprengan. Bentuknya bukan seperti angkot ataupun mikrolet zaman sekarang, masih berupa pick-up yang belakangnya dikasih terpal. Saya menjalani rute Kampung Melayu – Pulogadung – Cililitan.

Tahun 1985, saya pulang ke kampung halaman. Pada 25 Desember tahun itu, saya menikah dengan perempuan sedaerah, Made Arsani Dewi. Oleh karena cinta kami bertaut di Jakarta, kami memutuskan kembali ke Ibu Kota untuk mengadu nasib. Kami membeli rumah mungil di daerah Pondok Kelapa. Waktu itu saya bisnis mobil omprengan. Awalnya berjalan lancar, tapi karena deflasi melanda tahun 1986-an, saya pun jatuh bangkrut. Kerugian makin membengkak. Saya harus menjual rumah dan mobil. Lalu, saya hidup mengontrak.

NYARIS TERSAMBAR PETIR


Titik cerah muncul di tahun 1990. Saya pindah ke Perumnas Klender. Tanpa sengaja, saya melihat orang berjualan burger. Saya pikir, tak ada salahnya mencoba. Saya nekad meminjam uang ke bank, tapi tak juga diluluskan. Akhirnya saya kesal dan malah meminjam Rp 1,5 juta ke teman untuk membeli dua buah gerobak dan kompor.

KLIK - Detail
Bahan-bahan pembuatan burger, seperti roti, sayur, daging, saus, dan mentega, saya ecer di berbagai tempat. Dibantu seorang teman, saya menjual burger dengan cara berkeliling mengayuh gerobak. Burger dagangannya saya labeli Lovina, sesuai nama pantai di Bali yang sangat indah.

 

Banyak suka dan duka yang saya alami. Susahnya kalau hujan turun, saya tak bisa jalan. Roti tak laku, Akhirnya, ya, dimakan sendiri. Masih untung karena istri saya bekerja, setidaknya dapur kami masih bisa ngebul. Pernah juga gara-gara hujan, saya nyaris disambar petir. Ketika itu saya tengah memetik selada segar di kebun di Pulogadung. Tiba-tiba hujan turun diiringi petir besar. Saya jatuh telungkup hingga baju belepotan tanah. Rasanya miris sekali.

Di awal-awal saya jualan, tak jarang tak ada satu pun pembeli yang menghampiri, padahal seharian saya mengayuh gerobak. Mereka mungkin berpikir, burger itu pasti mahal. Padahal, sebenarnya tidak. Saya hanya mematok harga Rp 1.700 per buah. Baru setelah tahu murah, pembeli mulai ketagihan. Dalam sehari bisa laku lebih dari 20 buah.

Untuk mengembangkan usaha, saya mengajak ibu-ibu rumah tangga berjualan burger di depan rumah atau sekolah. Mereka ambil bahan dari saya dengan harga lebih murah. Sungguh luar biasa, upaya saya berhasil. Dalam dua tahun, gerobak burger saya beranak menjadi lebih dari 40 buah. Saya pun pensiun menjajakan burger berkeliling dan menyerahkan semua pada anak buah.

Tak berhenti sampai di situ, tahun 1996 saya mencoba membuat roti sendiri dan membuat inovasi cita rasa saus. Seminggu berkutat di dapur, hasilnya tak mengecewakan. Saya berhasil menciptakan resep roti dan saus burger bercita rasa lidah orang Indonesia. Rasanya jelas berbeda dengan burger yang dijual di berbagai restoran cepat saji.

Dec 28, 2007 Posted by | News | 3 Comments

Bagaimana mengenali bakat diri?

Setiap orang adalah individu yang unik. Setiap orang juga bertanggung jawab atas dirinya sendiri untuk menemukan misi hidupnya masing-masing. Agar kita bisa berkontribusi maksimal, tentunya akan sangat baik bila kita bekerja di bidang yang paling sesuai dengan keunikan kita. Ibaratnya bisa menjadi ikan dalam air, atau burung di udara.

Mengenali bakat merupakan hal yang gampang-gampang susah. Kenalkah Anda dengan JK Rowling? Itu loh, penulis Harry Potter yang buku terakhirnya terjual 8.9 juta hanya dalam waktu semalam di Amerika dan Inggris saja. Semula dia kerja sebagai pelayan toko. Hidupnya susah karena pendapatan yang pas-pasan. Tak disangka dia ternyata berbakat mendongeng. Setiap malam dia mendongeng kepada anaknya, yang kemudian oleh anaknya diceritakan kembali kepada teman-temannya. Tak disangka, dari sanalah muncul motivasi menulis buku fiksi Harry Potter yang ternyata sukses luar biasa di pasaran.

Bagaimana kita bisa mengenali bakat kita sendiri?

Berikut ini empat hal yang bisa dijadikan dugaan awal terhadap apa bakat kita, yaitu : reaksi spontan, tanda masa kecil, cepat belajar, dan kepuasan.

Reaksi spontan

Langkah pertama mengenali bakat adalah memperhatikan reaksi spontan kita terhadap situasi yang muncul. MIsalnya Anda sedang berjalan-jalan di keramaian. Tiba-tiba ada teriakan keras, “Copeet…!” Apa reaksi Anda? Lari mengejar copet? Menghibur korban? Berdiri mematung menganalisa situasi? Bertanya-tanya ke beberapa orang, membuat konfirmasi atas kejadian sebenarnya? Semua itu adalah pilihan yang mungkin diambil. Manakah pilihan spontan Anda? Kalau Anda langsung bertindak, berarti Anda orang yang praktis dan desisif (membuat keputusan cepat). Pada satu situasi yang mendesak bakat mental seperti ini sangat berguna, karena Anda segera bertindak. Pada situasi yang lain, bakat ini justru merugikan, misalnya karena tidak melakukan konfirmasi maka bisa terjebak pada kesalahan penilaian. Bukankah bisa saja yang teriak “copeet..” itu ternyata adalah temannya si copet yang mengalihkan perhatian? Bisa saja ada orang lain yang kemudian menjadi salah sasaran Anda gebukin padahal dialah korban copet yang sesungguhnya.

Yang penting adalah, mengenali reaksi spontan kita. Apakah kita orang praktis? Apakah kita orang analitis? Apakah kita orang yang waspada (sehingga melakukan konfirmasi lebih dahulu)?

Contoh lain, misalnya Anda diajak datang ke sebuah pesta. Apakah Anda akan langsung berbaur dan mengobrol dengan orang lain, bahkan dengan orang yang baru Anda kenal? Ataukah Anda mengambil segelas minuman, lalu berdiri di pojok mengamati orang-orang lain? Atau Anda sibuk dengan ponsel Anda sendiri kirim-kirim SMS ke orang lain dan tidak peduli dengan pesta? Hal ini menunjukkan apakah pribadi Anda introvert (cenderung ke dalam) atau extrovert (cenderung ke luar).

Semua reaksi spontan Anda menunjukkan bakat mental yang sering disebut kepribadian.

Tanda masa kecil

Tanda masa kecil (yearnings) menunjukkan apa bakat natural Anda. Von Neumann, lahir di Hungaria tahun 1903, adalah perumus dasar-dasar komputer. Pada usia 6 tahun telah mampu menghitung pembagian 8 angka hanya di kepala. Pada usia 8 tahun dia sudah belajar kalkulus. Dia juga punya ingatan fotografik, cukup membaca sekilas buku telepon, dia bisa mengingatnya kembali dengan persis. Von Neumann menjadi peletak dasar-dasar komputer. Dia juga arsitek yang merancang bom atom Fat man, yang dijatuhkan di Nagasaki oleh tentara sekutu.

Anna Mary Robertson Moses lahir di pertanian dekat New York. Sejak kecil dia senang mencampur warna, dan membuat sketsa indah dari berbagai buah-buahan. Namun kehidupan pertanian membuatnya tak lagi melukis hingga 40 tahun lamanya. Pada usia 78 tahun barulah dia memiliki waktunya untuk melukis. Selama 23 tahun kemudian hingga saat kematiannya, Moses melukis ribuan karya, dan kemudian terkenal sebagai artis lukis Grandma Moses.

Apa ciri bakat kita saat masa kecil? Pada bidang apa karya Anda masa kecil diakui oleh lingkungan?

Cepat belajar

Cepat belajar (rapid learning/ fast learning) merupakan tanda bahwa Anda berbakat pada bidang tersebut. Terkadang kita sendiri tidak tahu, sampai suatu ketika mendapat kesempatan mempelajari hal baru, dan… blam! rasanya begitu mudah menguasainya.

Henri Matisse tidak pernah menyentuh kuas hingga usia 21 tahun. Pekerjaan sehari-hari adalah klerk seorang pengacara. Sampai suatu ketika dia sakit flu berat, sehingga harus istirahat di tempat tidur. Ibunya berusaha mencarikan kegiatan pengisi waktu. Saat itulah ibunya memberikan seperangkat kuas dan cat. Empat tahun berikutnya dia diterima sebagai mahasiswa berbakat di sekolah seni Paris.

JK Rowling, penulis Harry Potter, juga tidak menyadari punya bakat mendongeng hingga teman-teman anaknya menyatakan begitu menariknya kisah Harry Potter. Kini dia wanita kedua terkaya di Inggris, kalah hanya oleh Ratu Elizabeth.

Jim Clark, seorang dosen yang jenius namun hidupnya kacau balau hingga 2 kali perkawinannya hancur. Lulus SMA dia melamar sebagai tentara Navy. Prestasinya sebagai kelasi begitu buruk sehingga sering dibilang bodoh oleh para atasannya. Sampai suatu ketika salah seorang instrukturnya bilang sebaiknya dia kuliah saja, karena tampaknya dia punya bakat matematika. Dan benar, dia meraih PhD di Computer Science! Setelah itu dia menjadi dosen. namun kebiasaan buruknya yang sering mengabaikan keluarga membuatnya bercerai. Tahun 1978 dia juga dipecat dari New York Institute of technology karena membangkang. Tak dijelaskan bagaimana, dia bergabung ke Stanford University. Pada usia 38 tahun, Clark yang menderita depresi berat, tiba-tiba menemukan pencerahan. Ternyata kehidupan kacaunya itu dikarenakan dia terlalu kreatif sehingga selalu mencari hal baru. Clark terlalu banyak ide. Sejak itu dia mendirikan perusahaan bernilai milyaran dolar, mulai dari Silicon Graphic Inc. (SGI), Netscape (pembuat browser internet), hingga Healtheon (perusahaan medical di internet) yang semuanya sukses besar jual saham dalam IPO. Bakat Jim Clark adalah ide dan visinya.

Tentunya Anda juga ingat dengan Kolonel Sanders. Dia memulai bisnis ayam goreng di usia 66 tahun. Ternyata bisnis restoran adalah hal yang menarik dan mudah dia pelajari.

Kalau ada bidang yang Anda begitu cepat menguasainya, mungkin di situlah bakat Anda.

 

Kepuasan

Ciri-ciri kita berada di jalur yang benar adalah kalau kita merasa puas dengan apa yang kita lakukan. Orang-orang yang sukses di berbagai bidang menunjukkan kepuasan terhadap pekerjaan mereka, baik pekerjaan itu menghasilkan banyak uang maupun tidak. Kalau Anda senang melihat orang lain tumbuh karena bimbingan kita, maka Anda berbakat menajdi pembina/pendidik. Kalau Anda puas dengan menciptakan hal baru, yang unik dan beda, mungkin Anda berbakat menjadi kreator. Kalau Anda puas bisa traveling ke berbagai penjuru dunia, mungkin Anda berbakat menjadi explorer, seperti Marco Polo dan Ibnu Batutah.

Seringkali yang membuat puas bukanlah sesuatu yang tampak secara fisik. Anda mungkin dosen, yang kadang suka kadang tidak dengan pekerjaan Anda. Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata Anda malas mengajar, tapi selalu tertarik dengan berita-berita riset terbaru. Jadi sebenarnya bakat Anda ada di riset, jadi bisa berada dimana saja, misalnya bergabung dengan grup riset di perusahaan besar. Seingat saya, Bondan Winarno adalah seorang pegawai maskapai penerbangan (atau di sekitar itu) yang melakukan banyak perjalanan ke luar negeri. Namun dia lebih dikenal sebagai kolumnis di majalah, yang menceritakan banyak pengalamannya saat pergi ke berbagai negara. Ternyata hobi dia yang lain adalah makanan (kuliner), bukan sebagai pembuat tapi sebagai penikmat makanan. Sekarang dia mengasuh rubrik kuliner di salah satu stasiun TV. Mungkin dia memang berbakat menjadi seorang explorer.

Apa saja yang membuat Anda puas?

Apapun kondisi dan pekerjaan Anda sekarang, tidak ada salahnya untuk terus mencari bakat terbaik kita. Kadang memang kita sendiri, entah kenapa, tidak peka dengan panggilan bakat kita. Tugas kita menemukannya, sampai kapanpun itu akan ditemukan. Seperti kata bijak dari timur, ” Setiap diri kita ini mempunyai misi, tugas kita adalah menemukan dan menjalaninya.”

Disarikan dari buku Now, Discover Your Strengths karya Marcus Buckingham.

 

Dec 27, 2007 Posted by | News | 3 Comments

Mengobati Sakit Hati

Sakit hati dapat dialami siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Bila tidak diantisipasi dengan cepat dan tepat, bisa membuat suasana
hati dan pikiran sumpek. Rasa sakitnyapun jadi berlarut-larut.

Tips di bawah ini mudah-mudahan bisa membuat hati Anda yang lagi sumpek kembali lapang:

1. Singkirkan dulu persoalan yang bikin sakit hati. Ingat saja hal-hal yang menyenangkan, semisal prestasi atau keberhasilan- keberhasilan Anda selama ini.

2. Pergilah ke tempat-tempat menyenangkan atau datangi orang-orang yang bersedia dijadikan tempat curhat Anda.

3. Bila masih ada yang mengganjal di hati, keluarkan unek-unek dengan melakukan monolog mental di depan cermin atau menuliskannya di buku harian.

4. Menangislah bila perlu, atau menjerit di tempat sunyi. Bisa juga sekadar mengepalkan tinju kuat-kuat, lalu memukulkannya ke udara kosong.

5. Jika panas di hati mulai sedikit mereda, coba ingat-ingat kebaikan atau kelebihan orang yang telah menyakiti hati Anda. Seburuk apa pun manusia, pasti ada kebaikannya.

6. Pelan-pelan maafkan dan lupakan kejadian yang menyesakkan hati itu.

7. Tanyakan pada diri sendiri, apakah kini Anda telah benar-benar dalam kondisi netral dan positif untuk kembali menjalani hidup sehari-hari. (intisari)

Dec 16, 2007 Posted by | News | Leave a comment

Delapan Hal yang “Anti” Dilakukan Pria


 

Anda mungkin sering bertanya-tanya mengapa kaum lelaki sering anti melakukan beberapa hal sederhana, seperti bertanya saat tersesat di jalan. Begitulah pria, banyak hal yang buat kaum perempuan begitu mudah, tapi buat mereka itu seperti sebuah pekerjaan yang maha sulit. Fakta berikut akan membantu Anda memahami si dia.

1. Cek kesehatan
Kepedulian kaum lelaki pada soal yang satu ini memang boleh dikatakan kurang. Jangankan mengurangi kebiasaan buruk, mengunjungi dokter untuk cek kesehatan pun mereka malas. Alasan mereka, takut mendengar vonis dokter terhadap kondisi kesehatan mereka. Padahal dunia kedokteran makin maju, jadi makin dini penyakit dideteksi makin mudah pula diobati.

2. Malas bersih-bersih
Tak perlu shock melihat kamarnya yang melebihi kapal pecah atau melihatnya melenggang dengan kemeja yang belum disetrika. Bagi mereka waktu luang atau hari libur adalah saatnya membalas waktu tidur yang berkurang akibat pekerjaan. Urusan kebersihan pun jadi prioritas kesekian untuk si dia.

3. Belanja
Perempuan mana yang menolak acara berbelanja, tapi bagi pria kesenangan kaum hawa ini sering menjadi siksaan. Kebanyakan pria hanya tahan keliling untuk belanja selama 30 menit, setelahnya mereka mulai kehilangan kesabaran. Jika berbelanja pria lebih suka membuat perencanaan barang yang akan dibeli sehingga waktu tidak terbuang percuma.

4. Melakukan foreplay
Bagi kita, kaum perempuan, foreplay sama pentingnya dengan bercinta itu sendiri. Tapi mengapa pria justru lebih suka melewatkan foreplay dan langsung masuk ke acara inti? “Untuk momen istimewa kami menyukainya tapi untuk hari-hari biasa yang melelahkan mengapa tak langsung saja ke menu utama,” tulis seorang pria di situs Askmen.com

5. Curhat
Tiap kali ada masalah pribadi perempuan biasanya langsung ’lari’ ke teman untuk menumpahkan perasaan. Lelaki justru sebaliknya, gengsi menceritakan masalah pribadi dengan sesamanya. Bagi mereka curhat ke teman sama saja dengan membuka kelemahan. Kalau pun terpaksa, mereka lebih memilih untuk bicara dengan teman perempuan.

6. Membuang benda
Gemas dengan kebiasaannya menyimpan segala benda-benda usang, mulai dari jeans yang sudah belel hingga perkakas yang karatan? Buat Anda mungkin itu benda usang tapi mereka beralasan tak mau membuang benda-benda ’tak penting’ itu karena takut suatu saat membutuhkan. Alasan lain adalah nostalgia yang tersimpan dalam setiap benda.

7. Menangis
Sesakit apa pun penderitaan yang mereka tanggung pria paling anti menitikkan air mata. Bukannya mau sok kuat, tapi pola asuh dan lingkungan telah membentuk pria menjadi mahluk yang anti menangis di depan umum. Lelaki baru benar-benar menangis jika mereka membuka bagian emosi yang ada di dalam otak, itu pun untuk peristiwa tertentu saja.

8. Mengurangi tayangan TV
Menurut sebuah survei, 29 persen pria menghabiskan waktu luangnya dengan menonton televisi. Pria juga memilih permainan seperti playstation sebagai sarana melepas stres dan pelarian dari masalah.  (An)

Dec 15, 2007 Posted by | News | 1 Comment

Menjadi Pribadi Tak Terpatahkan, Bisa!

Kompas/Pingkan Elita Dundu


Bisa dibayangkan apa jadinya jika Albert Einstein mempercayai kata-kata gurunya saat ia duduk di sekolah dasar, “kamu anak bodoh yang tidak akan menjadi apa-apa kelak.” Atau bagaimana jika Walt Disney percaya begitu saja ucapan atasannya yang menyuruhnya mencari pekerjaan lain karena ia dianggap tidak memiliki ide kreatif dan orisinal.

Untunglah mereka tidak percaya pada kritikan yang dilontarkan orang-orang di sekitarnya. Namun sayangnya sebagian besar dari kita melakukannya. Kita langsung merasa “down” saat diremehkan atau dikritik. Tanpa disadari kita membiarkan orang lain menentukan bagaimana citra diri kita, apa yang kita impikan dan apa yang ingin kita capai. Kita membiarkan orang lain “membentuk” diri kita sesuai opini mereka.

Kekuatan untuk menunjukkan pencapaian tertinggi dalam kerja dan karya di bidangnya telah banyak ditunjukkan oleh perempuan-perempuan “perkasa” di Indonesia. Aktivis pembela buruh, Dita Indah Sari, merupakan salah satunya. Wanita yang aktif memberikan penyuluhan tentang hak-hak buruh ini pernah dijebloskan ke penjara saat era pemerintahan Suharto hingga akhirnya mendapat amenesti dari Presiden Habibie.

Pada tahun 2001 Dita meraih penghargaan bergengsi dari Yayasan Ramond Magsaysay Filipina untuk kategori Emergent Leadership. Dita juga tercatat sebagai salah seorang pendiri sebuah lembaga penelitian, yaitu Lembaga Pembebasan Media dan Ilmu Sosial (LPMIS), serta Senjata Kartini sebuah LSM yang bergerak di bidang perempuan. Kini ia juga dipercaya untuk memimpin Partai Rakyat Demokratik.

Dari dunia hiburan, kita bisa mencontoh perjuangan Shanty yang meniti karir dari bawah ini. Saat Shanty memutuskan berhenti sebagai video jockey MTV untuk total di dunia tarik suara, ia harus menghadapi kritikan negatif dari media. “Kalau ingat masa lalu ketika merilis album pertama, miris hati saya melihat ulasan media yang sebagian besar bernada negatif,” katanya.

Untungnya perempuan kelahiran 30 Desember 1978 ini tetap yakin pada kemampuannya, kini sudah empat album yang dihasilkannya. Begitupun ketika ia masuk ke dunia film. “Saat masuk ke dunia film saya sudah siap-siap mendapat kritikan tajam,” kata artis yang memiliki nama lengkap Annissa Nurul Shanty Kusuma Wardhani Heryadie ini.

Tapi Shanty berhasil menunjukkan bakatnya yang lain di dunia film. Aktingnya yang gemilang dalam film Berbagai Suami membuatnya masuk dalam nominasi pemeran utama wanita terbaik FFI 2006. Dalam waktu dua tahun telah lima judul film yang dibintanginya. Sekarang nama Shanty kian diperhitungkan di jagad hiburan tanah air sebagai artis multi talenta.

Memiliki passion


Menilik jatuh bangun tokoh-tokoh di atas dalam meraih sukses, sebenarnya ada satu hal yang membuat mereka menjadi pribadi tak terpatahkan, yakni passion. Mereka rata-rata memiliki passion terhadap apa yang digeluti, entah di bidang sosial, hiburan, atau ilmu pengetahuan.

Menurut Nan Russell, ahli kepemimpinan dan manajemen, passion merupakan kekuatan terbesar dalam memotivasi diri untuk tetap konsisten, serta membantu kita untuk menggunakan kemampuan dan talenta yang dimiliki. “Selama 20 tahun karir saya dalam bidang manajemen, kita bisa mengajarkan skill pada orang lain, tapi tidak passion,” katanya.

Untuk meraih kesuksesan, kita dituntut untuk yakin pada kemampuan diri dan memiliki mimpi. “Orang yang sukses tidak menyesali masa lalu, tidak melihat hambatan sebagai akhir atau kritik negatif sebagai vonis,” kata Nan. Justru sebaliknya, kita harus berpegang teguh pada komitmen untuk tetap menjalankan apa yang menjadi panggilan jiwa.

Passion akan membantu kita membendakan antara opini orang lain dan fakta, sehingga kita bisa melangkah maju untuk mencapai apa yang inginkan dalam hidup. Saat kita memiliki passion terhadap pekerjaan, passion terhadap mimpi dan hidup, kita pasti memiliki semangat tak terpatahkan. Kalimat bijak berikut mungkin bisa menjadi inspirasi untuk menjadi pribadi tak terpatahkan,

its hard to beat a person who never give up.”

Dec 15, 2007 Posted by | News | 1 Comment